Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

4 Apr 2013

MAKAM CINTA



( Published by : The Magazine Of MA. Matholi’ul Anwar )

“ MAKAM CINTA “
Oleh : Dewi Nurjanah

“ Hari yang cerah ! “ucapku sambil membuka jendela. Aku bergegas merapikan ranjangku dan membersihkan buku – buku yang berserakan di lantai kamarku.
          “ Oh my God, terlambat… “ aku segera berlari menuju kamar mandi. Hari ini ada diskusi, dan nampaknya aku terlambat lagi.
          “ Tok…tok…tok… “ ku ketuk pintu dengan rasa malu.
          “ Masuk Grey “ jawab Pevita.
          “ Cepat benar sang putrid berangkat. Seharusnya sepuluh menit lagi biar kita nunggunya genap satu jam “ ucap si judas Bambi.
          “ Uh, rasanya ingin ku plester mulut si Bambi itu. Meski aku terlambat, tapi ia tak semestinya bicara seperti itu “ rintihku dalam hati.
          Hari ini aku benar – benar sial. Sudah terlambat, menjadi bahan tertawaan Bambi, dan kini saat diskusi tak dapat tempat duduk pula. Sungguh miris. Terpaksa aku harus jadi antena. Upsss…sepertinya ada anggota baru, tapi…
          “ Hey Grey, aku Blaair. Aku anggota bartu di sini. Maaf ya, karena aku kau berdiri. Duduklah di sini, ini kan tempatmu “ ucap Blaair sambil berdiri dari tempat duduknya.
          “ Tak usahlah, siapapun berhak duduk di situ termasuk kamu “ jawabku malu – malu “. Aku sungguh tersanjung dengan sikap Blaair. Dia benar – benar pantas di sebut ksatria karena begitu eninggikan kaum hawa.
          Seusai diskusi aku dan Pevita berbincang – bincang di kantin kampusku.
          “ Astaga ! HP-ku ketinggalan “ ucapku sambil membongkar isi tasku.
          “ Kau cari saja di ruang diskusi, barangkali tertinggal di sana “ saran Pevita.
          “ Aku segera meluncur ke ruang diskusi. Di perjalanan menuju ke sana, ku lihat Blaair duduk sendirian di taman kampus sambil memainkan laptopnya. Aku beranikan diri menghampirinya, setidaknya aku bias jadikan ‘ terima kasih ‘ sebagai kambing hitamnya.
          “ Hey Blaair… “ sapaku dengan senyuman. Blaair bahkan enggan menjawabnya.
          “ Blaair, terima kasih yang tadi. Kau sungguh baik “ ucapku menyanjungnya. Blaair tetap memainkan laptopnya dan menganggap suaraku angin lalu.
          “ Kenapa kau tak gabung dengan teman – temanmu ? “ tanyaku sambil menahan kesal.
          “ Maaf Grey, tapi kau sangat menggangguku ! “ ucapnya pelan.
          Aku segera pergi meninggalkannya, dan kembali ke tujuanku. Setelah mengambil HP, aku bergegas ke kantin untuk menemui Pevita yang sudah jamuran menungguku.
          “ Kau dari mana saja Greyshia ? “ Tanya Pevita agak kesal.
          “ Aku tadi menemui Blaair, mengucapkan terima kasih kepadanya. Tapi tak ku sangka, Blaair itu ternyata lebih menyebalkan dari pada Bambi. Kau tahu, dia tadi tak menghiraukan sekatapun ucapanku, bahkan lebih parahnya dia mengusirku “ ucapku sangat kesal.
          “ Jangan diambil hati. Dia tak seburuk itu. Blaair yang sesungguhnya sangat ramah, seperti yang dilakukan saat di ruang diskusi tadi. Tapi semenjak Arabell meninggalkanya ke Skotlandia tiga tahun lalu, Blaair seakan anti dengan wanita bahkan dia jadi pelit bicara “ ujar Pevita menenangkanku.
          Sesampainya di rumah, aku terus terngiang ucapan Pevita. Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi di antara Blaair dan Arabell. Mengapa Blaair sampai sedemikian rupa ?. Aku berusaha mencari tau tentang mereka.
          Empat hari kemudian secara tak sengaja aku kembali bertemu dengan Blaair. Ku coba tanyakan sedikit kepadanya, meski dia akan menganggapku sok tahu atau apa sajalah.
          “ Hey Blaair, aku ingin bicara denganmu “ ucapku sambil berjalan mengejarnya. Blaair terus berjalan seakan tak menghiraukanku.
          “ Blaair, kau tahu Arabell itu sangat jahat. Untuk apa kau seperti ini ? semua itu tak akan mengembalikannya. Dia mungkin sudah melupakanmu, jadi untuk apa ka uterus menyiksa hatimu ? “ucapku lantang karena kesal. Blaair seketika berhenti berjalan mendengar ucapanku. Dia memandangku seperti monster yang siapmenelanku. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan padaku.
          “ Grey, terima kasih atas pujianmu ! “ ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.
          Setelah jam kuliah selesai, aku segera pulang. Ku baringkan badan di atas ranjang sambil tiduran. Beberapa saat kemudian HP-ku berbunyi. Ku lihat ada SMS masuk. Kemudian ku baca. SMS itu berisi :
“ Tiada kesempurnaan tutur kata, meski terwakili seribu bahasa. Seperti halnya kata cinta, meski biasa namun begitu mengena “
          Ku abaikan SMS itu karena tak tercantum nama pengirimnya. Akupun melanjutkan tidurku. Ketika aku bangun, lagi – lagi SMS semacam itu masuk. Aku segera membacanya :
“ Sepenggal sajak cinta menyanjung jiwa, menerbangkan hati ke puncak nirwana. Sungguh aku kan meluka, karena Greyshia enggan member jawabnya “
          aku benar – benar geram dengan pengirimnya. Aku bahkan tak berniat membalasnya.
          Keesokan harinya, aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal berdiri di samping pintu kelasku. Akupun mempercepat langkahku. Setelah semakin dekat, ternyata…
          “ Blaair, apa yang kau lakukan di sini “ tanyaku penasaran.
          “ Aku menunggumu “ jawab Blaair singkat.
          “ Aku ??? “ tanyaku yang masih terheran – heran. Blaair mengajakku bicara di taman yang biasa ia singgahi.
          Seusai kuliah, akupun menghampirinya.
          “ Blaair, sebenarnya ada apa sich ? “ tanyaku yang masih penasaran.
          “ Kau jangan membuatku malu. Kenapa kau tak balas SMS-ku ? “ Blaair balik menanyaiku.
          “ SMS apa ? “ tanyaku yang masih bingung.
          “ Kau benar – benar ingin membuatku malu ya ? yang kemarin SMS itu aku. Grey, aku mencintaimu… “ ucap Blaair sambil tersenyum memandangiku.
          Aku sungguh ingin tertawa ketika melihatnya menyatakan cinta. Tapi aku tak tega, karena aku tahu butuh keberanian yang besar bagi Blaair untuk melakukannya.
…
          Empat hari kemudian, aku dan Blaair jadian. Semenjak saat itu aku semakin mengenalnya. Dia memang tak banyak bicara. Tapi bagiku ia adalah air tenang yang memberiku kesejukan. Dan itulah yang ku anggap kelebihan.
          Namun setelah tujuh bulan jadian, aku sering melihat Blaair pingsan. Dan da juga sering bolak – balik Jakarta – Bandung. Aku tak mau menanyakan hal itu padanya, jika ia tak ingin cerita. Ini adalah hari kelima Blaair tidak menghubungiku. HP-nya selalu mati. Ku tanyakan kepada teman – temannya pun percuma. Ia teramat pendiam sehingga tak punya banyak kawan. Aku begitu mencemaskannya. Aku takut sesuatu terjadi padanya.
…
          Sabtu sore ada ibu setengah baya mengantarkan surat ke rumahku. Dia bilang dari Blaair. Aku segera membacanya :
“ Di kerindangan kota Jakarta
Tertutup mendung menggantung lara
Sungguh ku ingin kau bahagia
Meski gerimis tak kunjung reda
                   Di peti cinta yang membawa
                   Sebongkah hati yang nelangsa
                   Ku kan tetap menjaga cinta
                   Meski dunia kan terbela
Wahai kau belahan jiwa…
Jangan kau tenggelamkan
Makam cinta…
Dengan air mata penambah lara
Karena hatiku…
Kan kian tersiksa “
          “ Ibu siapa ? “ dan apa maksudnya ini ? “ tanyaku kepada ibu tadi.
          “ Grey anakku, aku ibunya Blaair. Dia menulis surat itu empat bulan sebelum ia… “ ucap ibu itu terbata – bata.
          “ Sebelum apa, bu ? “ tanyaku penasaran.
          “ Grey, dua hari yang lalu Tuhan telah menjemput putraku “ ucap ibu itu sambil menangis memelukku.
          Air mataku seketika tumpah. Entah apa yang ku rasakan pada saat itu. Sedih, marah, tak percaya ? tapi ini adalah kenyataan yang menyakitkan.
…
          Keesokan harinya, ibu itu mengantarkanku di makam Blaair. Aku hampir tak sadarkan diri di makam Blaairnan sunyi.
          “ Blaair, kau itu terlampau lemah, hingga tak punya daya tuk menceritakan yang sesungguhnya “ rintihku di samping nisan Blaair.
          Meski hanya sekejap bersama, namun ku tetap bahagia. Karena Blaair masih kembali kepada yang Esa dengan cinta di hatinya.*


Lamongan, 2009

SEBENTUK HATI BERSAKSI



Juara 3 Lomba Menulis Cerpen, Artikel dan Puisi
“ Himpunan Siswa Unggulan “  MA. Matholi’ul Anwar

Oleh : Dewi Nurjanah

                Jiwaku kini kian rapuh, dan akan runtuh bersama istanaku, di mana tiangnya adalah engkau…………
“ SEBENTUK HATI BERSAKSI… “
     Angin berhembus membelah laju prasangka, yang terus bergejolak dalam dada. Meleburkan segala hastrat dalam jiwa. Ku babakkan setiap peristiwa menjadi cerita. Dan akan ku hentikan alur waktu tuk menuangkan kisahku.
            Biarlah sebentuk hati ini bersaksi mengurai perih dan ngilu hati, dengan puisi berbingkai kasih untuk sang mentari. Bukan ungkapan frustasi. Melainkan pembelaan diri atas semua yang telah terjadi.
…
            Di suatu senja di Surabaya. 2004.
            “ Kiki, apa rencanamu selulus SMA ? “ tanya Roni membuka perbincangan.
            “ Entahlah “ aku berhenti sejenak. “ Biar waktu yang menjawabnya. Aku kan mengikuti kemapun angin kan menerbangkan hastratku “
            “ Mimpi itu tak seringan debu yang bisa disapu angin kapan waktu. Kau jangan merendahkan dirimu. Apalagi meremehkan potensimu “ ujar Roni.
            Hatiku nyeri, nyeri sekali.
            “ Kau sendiri apa rencanamu ? “ tanyaku kemudian.
            “ Ehmmm… “ Roni berfikir. “ Pasti kuliah “ tebakku cepat.
            “ Barangkali “ jawabnya ringan. “ Kau tau, tak semua yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan. Dan tak semua yang kita inginkan ataupun butuhkan akan kita dapatkan “ dalil Roni.
            Ya. Dan kau adalah salah satu yang ku inginkan dan butuhkan, namun juga tak kan pernah ku dapatkan. Oh my first love…hehehe. Ujarku dalam hati.
…
            Selulus SMA kami berpisah. Bumi seakan terbelah menjadi dua, diguncang gempa maha dahsyatnya. Dan kami berpisah di bagian bumi yang berbeda. Tak ada angin yang membawa kabarnya. Hingga lima tahun telah berlalu, namun kami tak kunjung bertemu.
            Aku akan kuliah di UGM Jogja. Begitu kata Roni. Ah, aku tak banyak tahu tentang Jogja, apalagi UGM-nya. Sedangkan aku sendiri memutukan mengadu nasip di Jakarta. Mengais rupiah demi menopang ekonomi keluarga.
…
            Suatu ketika di Jakarta. 2009.
            Jam pulang kerja telah tiba, namun hujan tak kunjung reda. Begitu lama. Aku gelisah.
            “ Azkia “ sapa mbak Resi. Aku memalingkan wajah. Tersenyum. “ Belum pulang ? “ Tanya beliau. Aku mengangguk mengiyakan.
            “ Mbak Resi juga “ ujarku. Ia lantas melempar senyum.
            Tak lama kemudian, mobil jemputan mbak Resi datang. Ia Nampak senang.
            “ Pulang bareng yuk non “ tawarnya.
            “ Terima kasih mbak. Tapi arah tujuan kita kan berlawanan. Akan sangat merepotkan “ tolakku ramah.
            “ Itu bisa diatur “ ujarnya memastikan.
            “ Iya, lain kali saja “ aku bersikeras.
            “ Baiklah “ ujar beliau menyerah. “ Tapi lain aku akan marah jika kau menolak ! “ ancamnya. Aku mengangguk.
            Ia melambaikan tangan dari dalam mobil yang membawanya melaju kencang meninggalkan restoran. “ Hati – hati ya sayang… “ pesannya.
            Ah, andai saja aku anak orang berada. Bisa kuliah. Tak perlu susah payah kerja hanya demi sejumlah rupiah. Oh, aku iri. Betapa beruntungnya mbak Resi.
            Tett…tett…
            Suara klakson mobil itu menyudahi lamunanku.
            “ Ngagetin orang aja sich ! “ ucapku kesal. Reflek.
                        Sesosok pemuda tampan, berkaca mata hitam dan berkemeja rapi keluar dari dalam mobilnya.
            “ I’m sorry “ ucapnya menyesal. Aku berkacak pinggang. Ia lantas membuka kaca matanya.
            “ Kiki ? “ ucapnya kemudian. Aku memerhatikannya dengan saksama. Ya Tuhan…Kirikoku telah kembali, batinku. “ Kau Kiki kan ? “ ulangnya memastikan. “TIDAK ! kau salah orang. Aku bukan Kiki “ sangkalku. “ Nur Azkia “ ujarnya.
            Aku lantas berlari menerobos deras hujan yang seolah mencabik – cabik kulitku. Ini adalah pertemuan yang ku tunggu, setelah lima tahun penantianku. Namun…entah mengapa hatiku justru terasa ngilu.
            “ Kiki, tunggu ! “ teriak Roni mencoba menghentikanku. “ Aku sungguh merindukanmu. Please…berhentilah berlari “ ucapan Roni menghentikan langkahku.
            Air mataku seketika bercucuran sederas guyuran hujan. Ia memelukku dari belakang. Begitu erat. Ku rasakan kehangatan menyusup perlahan. Hujan seakan menghapus segala kesedihan yang ku rasakan.
            “ Kau kemana saja ? kenapa tak ada kabarnya ? “ Tanya Roni. Aku diam dalam kebisuhan. Sesenggukan. Tak lama kemudian Roni mengantarku pulang.
…
            Semenjak pertemuan itu, aku kembali dekat dengan cinta pertamaku. Aku sungguh mencintai Kiriko, bahkan lebih dari sangat. Tapi…pantaskah aku berharap lebih darinya, dengan segala perbedaan yang ada ?.
            Andai aku bisa, kan ku hancurkan semua benteng yang memisahkan aku dengannya. Persetan dengan status keluarga ataupun gelarnya. Yang ku pinta hanyalah cintanya. Bukan sekedar senyuman berdalih belas kasihan. Oh Tuhan…mengapa manusia selalu saja mencari kekurangan saudaranya, padahal ia sendiri tak pernah berkaca. Apakah dia sendiri sempurna ? dan seperti pa definisi sempurna yang sesungguhnya ?.
…
            Sore ini sepulang kerja, aku kembali bertemu dengannya. Kami lantas jalan – jalan, berbincang – bincang melepas kerinduan.
            “ Kiki “ucapnya.
            “ Jangan lagi panggil aku Kiki, Ron “ sela ku. “ Panggil saja aku Azkia “. Roni menatapku. Segan memahami.
            “ Bukankah Kiki adalah panggilan kesayanganmu dariku ? dan Kiriko adalah panggilan kesayanganku darimu ? “ ungkapnya. Aku terdiam. Sungguh bukan ini yang ku inginkan.
            “ Oh iya, kemarin apa yang kau lakukan di restoran ? “ tanyaku mengalihkan pembicaraan.
            “ Aku ingin menjemput seorang teman “ jawab Roni.
            “ Ow… “ ujarku mengerti. Kami diam sejenak.
            “ Sejak kapan kau di Jakarta ? “ tanyaku kemudian.
            “ Seminggu yang lalu, setelah wisuda di Jogja “ jawab Roni. “ Lantas kau ? “ Tanya Roni balik.
            “ Selulus SMA. Sejak kau memutuskan kuliah ke Jogja “ jawabku.
            “ Kuliah atau kerja ? “ Tanya Ronio kembali.
            “ Kerja “ jawabku singkat.
            “ Kerja ? “ ulang Roni.
            “ Aku malu padamu “ ucapku sendu. Roni tak sedikpun memalingkan perhatiannya dariku. Raut wajahnya tak kalah sendu. “ Aku hanya pelayan restoran. Sungguh peta masa depan yang suram “ lanjutku.
            Hatiku perih sekali.
            “ Tak ada yang memalukan selagi pekerjaan itu halal “ ujar Roni menguatkanku. “ Aku sangat mencintai semangatmu. Semangat yang berapi – api. Bagiku kau tetaplah Azkia yang sama, meski tidaklah sarjana. Kau tetap guruku “ lanjut Roni.
            Butir – butir air mataku seketika terjatuh.
…
            Setelah lima bulan kembali menjalin hubungan, kebahagiaan yang sempat ku rasakan sekejap menghilang. Menyakitkan.
            Hari ini Roni mengajakku makan siang di kafe tak jauh dari restoran.
            “ Ki, aku harap hubungankita bisa terus sehangat ini apapun yang terjadi “ ucapnya. “ Meski ____  “ Roni tak melanjutkan ucapannya. Ku lihat matanya basah. “ Lusa aku akan menikah “ ucapnya sendu.
            Dunia serasa runtuh menghantam kepalaku, ketika mendengar rencana pernikahan cinta pertamaku. Hatiku ngilu.
            “ Menikah ? “ ulangku tak percaya. Mataku berkaca – kaca. “ Kenapa kau baru cerita ? “ tanyaku pelan.
            Roni menyerahkan undangan pernikannya padaku. Di sana tertera nama kekasih Roni. Resi Emira. Apa ? RESI EMIRA ?
            “ Aku menyesal kenapa ini harus terjadi. Dan aku marah. Kenapa Tuhan baru mempertemukan kita sekarang ? “ ungkapnya.
            Kami bersimbah air mata. Merana.
…
            Malam nanti, akad nikah Roni dan mbak Resi dilangsungkan. Dan resepsi digelar minggu malam.
            Pagi tadi ketika aku bangun, ku dengar nada SMS di HP-ku bordering. Segera ku buka :
“ Dedaunan luruh di musim gugurku,
            Namun tidak dengan cintaku
                        Dedaunan beku kala salju terjatuh,
                                    Namun sayangku tak begitu
Kasihku kan terus bersemi
                        Meski musim demi musim telah berganti
            Cinta dan sayangku hanya untukmu
Meski waktu tak beri restu.

By : Kiriko “
            Hatiku kian merintih menahan perih, berharap Illahi Robbi berbelas kasih. Ya Alla…berilah aku kekuatan.
            Malam menjelang. Akad nikahpun dilangsungkan. Saat Roni mengucapkan ijab Qobulnya, hatiku porak poranda. Remuk redam. Perih tak tertahankan.
            Oh, mungkin saja rayuanku tak ampuh menghentikan laju waktu, hingga aku terhempas dari mimpiku.
            Dan ketika Roni resmi memperistri mbk Resi, hatiku membiru terkungkung pilu. Sekarat. Karena derita tak kunjung reda. Sebagian jiwaku pasrah, sebagian lagi meronta. Tak rela.
…
            Minggu malam resepsi dilangsungkan. Langit hatiku kembali kelam. Separuh jiwaku t’lah melayang bersama hembusan angin yang membawa debu – debu jalanan berterbangan. Suara jiwa bersahut – sahutan saling menyalahkan. Adakah yang ku rasakan adalah sebuah kesalahan ?.
            Rasanya waktu tak menyediakan tempat untukku. Sekedar istirah melepas lelah. Aku begitu menginginkannya. Namun bunga yang ku suka sudah tak mampu ku jama.
…
            Sepekan setelah pernikahan, Roni mengajakku bertemu. Di taman. Namun bukan taman dekat restoran.
            “ Kau Nampak kurusan kawan “ candanya. Aku tersenyum. Tiada lagi tawa. Suatu yang kini bagiku mahal harganya.
            “ Kau tahu perasaanku ? “ Tanya Roni serius. Aku tak bergeming. “ Betapa hancurnya hatiku ketika yang bersanding denganku bukan kau “ ucapnya. “ Aku sangat mencintaimu, sedari SMA dulu. Dan sampai sekarang pun begitu “ ujarnya. Aku tersentak. Air mataku luruh.
            “ Selama lima tahun aku mencarimu. Di Surabaya. Di Jakarta. Tapi apa ? aku selalu pulang dengan tangan hampa. Aku frustasi. Hingga pak Very memperkenalkanku dengan Resi. Satu tahun yang lalu “ kisahnya.
            “ Aku bahagia atas pernikahanmu “ ucapku.
            “ Kau munafik ! “ bentaknya. “ Kenapa kau selalu menyakiti hatimu ? hatiku ? “ ucapnya. “ Aku tidak bisa lari dari kenyataan. Dari rencana pernikahan yang sudah dipersiapkan sebelum kau dating “ Roni tersedu. Hatiku pilu.
            “ Tapi____ “ Roni diam sejenak.
            “ Tapi apa ? “ tanyaku.
            “ Bukankah islam menghalalkan berbagi suami ? “
            “ Maksudmu ? “
            “ POLIGAMI “
            “ Kau gila ! aku mengharamkan poligami ! “
            “ Kenapa kau mengharamkan padahal islam menghalalkan ? “
            “ Demi Allah, aku tidak akan mampu melihat suamiku berlaku mesra kepada selainku. Terlebih aku tidak mau menyakiti hati mbak Resi. Karena kekasihmu adalah sahabatku “ aku diam sejenak.
            “ Dan lagi,  keluarga mbak Resi sudah menganggapku keluarga sendiri. Mereka memberi aku makan ketika aku kelaparan. Memberi aku pakaian ketika aku kedinginan. Dan memberiku tempat tinggal ketika aku nyaris menjadi gelandangan. Jadi jangan memaksa aku menjadi pagar makan tanaman, kepada orang – orang yang member aku kehidupan “ lanjutku berkisah.
            “ Tapi, Ki, bukan berarti kau harus menggadaikan kebahagiaanmu sendiri , untuk membuktikan sebuah tanda terima kasih agar kau dicap tahu diri ! “ ujarnya.
            “ Bukankah sahabat adalah selimut yang menghangatkan saat sahabatnya kedinginan ? bukankah sahabat mampu menggali dahaga saat sahabatnya dahaga ? dan bukankah sahabat tak ubahnya lemtera, kala hati sahabatnya gulita ? itulah yang coba ku lakukan ! “ jelasku panjang lebar.
            Roni terdiam. Kedua matanya menerawang.
            “ Menurutmu bagaimana perasaan mbak Resi jika mendengar perdebatan ini ? aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati mbak Resi jika mengetahui suaminya ingin berbagi hati dengan sahabatnya sendiri. Aku memang sangat mencintaimu. Tapi aku justru ingin membunuh perasaan itu. Karena pantaskah aku menuntut hakku sementara kewajiban yang menanggilku belum ku sentuh ? “ lanjutku.
            Setelah pertemuan itu, aku mengemasi barang – barangku. Ku kubur semua kenangan yang menyakitkan, dan ku jadikan pelajaran. Karena bagiku, masa lalu adalah bagian yang akan terus membingkai perjalanan menuju masa depan.
            Aku mengundurkan diri dari restoran, dan akan berkelana jauh dari Jakarta. Kisah yang menjadi setting kisah kasih aku dan dia.
            Pagi ini Roni mengirim SMS :
“ Nothing can change my love for you. Forever “
            Aku tak membalasnya.
            Duhai, sampaikan senandungku untuk bunga yang ku rindu. Karena cintaku tak kan luruh oleh waktu, ucapku dalam hati.
            Aku lantas melangkah meninggalkan Jakarta. *


Lamongan, Desember 2009.